Ditulis oleh: N. Azka Hanifa & Chlara Puspa & Farah Naufal
Ditinjau oleh: Anna Fatinasari & apt. Chania Putri Arfiadanti
Swipers, pernahkah kalian merasakan perut perih, mual, kembung atau sensasi panas di dada (heartburn)? Keluhan ini seringkali dikaitkan dengan masalah asam lambung. Dalam dunia medis, kondisi ini dapat berkaitan dengan beberapa penyakit saluran cerna seperti gastritis atau peradangan di lambung dan gastroesophageal reflux disease (GERD).
Gastritis adalah kondisi inflamasi atau peradangan pada lapisan lambung yang menyebabkan rasa nyeri di ulu hati atau lambung menimbulkan rasa tidak nyaman di perut bagian atas. Sementara itu, GERD terjadi ketika asam lambung naik kembali ke esofagus. Aliran balik atau refluks ini dapat menyebabkan sensasi perih dan panas seperti terbakar di bawah tulang dada (heartburn), rasa asam di mulut, dan mual.
Kondisi tersebut bisa dipicu oleh berbagai faktor, seperti pola makan tidak teratur, konsumsi makanan pedas atau berlemak berlebihan, stres, merokok, hingga penggunaan obat tertentu. Untuk meredakan keluhan akibat asam lambung, terdapat beberapa jenis obat yang sering digunakan, yaitu antasida, H2 blocker, dan proton pump inhibitor (PPI).
Meskipun sama-sama digunakan untuk mengatasi keluhan lambung, ketiga obat ini memiliki cara kerja dan penggunaan yang berbeda lho Swipers!
- Antasida
Swipers, antasida adalah obat yang bekerja dengan menetralkan asam lambung secara langsung. Obat ini biasanya mengandung senyawa seperti aluminium hidroksida, magnesium hidroksida, atau kalsium karbonat. Antasida langsung bekerja di lambung sehingga efek kerjanya akan terasa cepat sehingga sering digunakan untuk meredakan keluhan ringan secara segera. Antasida dapat dikonsumsi saat perut terasa perih atau panas di dada setelah makan. Namun, antasida tidak mengurangi produksi asam lambung. Oleh karena itu, efeknya relatif singkat dan biasanya hanya digunakan untuk mengatasi gejala sementara.
- H2 Blocker
H2 blocker atau H2 receptor antagonist (H2RA) bekerja dengan menghambat reseptor histamin H2 pada sel parietal lambung sehingga dapat menurunkan sekresi asam lambung. Obat ini
digunakan untuk mengurangi kondisi asam pada lambung dan membantu meredakan gejala GERD. Dalam beberapa kondisi, H2RA dapat ditambahkan pada terapi PPI, misalnya pada pasien dengan refluks pada malam hari, dengan pemberian pada waktu malam karena sekresi asam basal paling tinggi pada malam hari. Selain itu, H2RA juga dapat digunakan dalam terapi penurunan dosis (step-down therapy) setelah penggunaan PPI.
- PPI
Proton pump inhibitor (PPI) bekerja dengan menghambat secara irreversibel enzim H⁺/K⁺-ATPase pada sel parietal lambung sehingga mencegah pengeluaran asam lambung. PPI digunakan untuk penatalaksanaan GERD, pengobatan dan pencegahan tukak peptik, dispepsia, eradikasi Helicobacter pylori, tukak akibat NSAID, serta erosive esophagitis. PPI direkomendasikan sebagai terapi lini pertama dalam tata laksana pengobatan GERD. Terapi awal biasanya diberikan selama sekitar delapan minggu untuk membantu meredakan gejala dan membantu penyembuhan esofagitis erosif.
Jadi, Kapan Digunakan?
Antasida, H2 blocker, dan PPI sama-sama digunakan untuk mengatasi keluhan akibat asam lambung, tetapi cara kerja dan kekuatan efeknya berbeda.
- Antasida bekerja cepat dengan menetralkan asam lambung yang sudah terbentuk, sehingga cocok untuk meredakan keluhan ringan yang muncul tiba-tiba.
- H2 blocker bekerja dengan menurunkan produksi asam lambung dan dapat digunakan untuk membantu meredakan gejala seperti GERD.
- PPI bekerja paling kuat dalam menekan produksi asam lambung dan sering menjadi pilihan utama pada penatalaksanaan GERD.
Waktu penggunaan:
- Antasida: diminum saat gejala muncul, biasanya setelah makan
- H2 blocker: digunakan sesuai anjuran dokter, bisa diminum pagi atau malam hari tergantung kondisi
- PPI: diminum sebelum makan, biasanya 30–60 menit sebelum sarapan
Walaupun sama-sama digunakan untuk keluhan asam lambung, pemilihan obat perlu disesuaikan dengan kondisi dan gejalanya. Jadi, kalau keluhan lambung sering muncul atau tidak membaik dengan obat bebas, sebaiknya konsultasikan dengan dokter atau apoteker, ya!
Referensi :
- Ahmed A, Clarke JO. Proton pump inhibitors. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023 May 1. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK557385/
- McCarthy DM, O’Morain CA. Antacids. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK525994/
- Sachs G, Shin JM, Howden CW. The clinical pharmacology of proton pump inhibitors. Alimentary Pharmacology & Therapeutics. 2006;23(Suppl 2):2–8.
- Sharma S, Hashmi MF, Burns B. Histamine H2 receptor antagonists. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2023. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK526049
- Song MJ, Kim S, Boo D, Park C, Yoo S, Yoon HI, Cho YJ. Comparison of proton pump inhibitors and histamine 2 receptor antagonists for stress ulcer prophylaxis in the intensive care unit. Sci Rep. 2021 Sep 16;11(1):18467. doi: 1038/s41598-021-98069-7. PMID: 34531488; PMCID: PMC8446063. https://www.pepcid.com/compare-heartburn-treatments/h2s-vs-antacids-vs-ppis
- Wilks, A., Panahi, L., Udeani, G., & Surani, S. (2022). Review of Gastroesophageal Reflux Pharmacotherapy In IntechOpen eBooks. https://doi.org/10.5772/intechopen.106338



