
Ditulis oleh: Anna Fatinasari
Ditinjau oleh: apt. Herlita Septiacha, S.Farm
Swipers, jangan sepelekan demam ya! Karena bisa jadi demam yang kamu anggap sepele ternyata adalah tanda awal malaria!
Banyak orang masih mengira malaria hanya sekadar demam biasa. Padahal, malaria merupakan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan di berbagai negara tropis, termasuk Indonesia. Faktor lingkungan seperti suhu, curah hujan, dan kelembaban berperan penting dalam meningkatkan risiko penularan malaria. Setiap tahunnya, diperkirakan dua miliar orang berisiko tertular malaria, dan penyakit ini merenggut nyawa 1,5 hingga 2,7 juta orang per tahun.
Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina. Saat nyamuk menggigit manusia, parasit masuk ke aliran darah, lalu berkembang biak di organ hati sebelum menyerang dan menghancurkan sel darah merah. Proses inilah yang kemudian menimbulkan gejala khas malaria, seperti:
- Demam disertai menggigil (panas dingin)
- Sakit kepala
- Berkeringat
- Lesu dan letih
- Mual dan muntah
- Diare
- Nyeri otot
Jika tidak segera ditangani, malaria dapat menyebabkan komplikasi serius yang mengancam jiwa, seperti:
- Malaria Serebral
Komplikasi ini paling sering terjadi pada infeksi P. falciparum dan menyumbang 80% dari total kasus malaria yang berakibat fatal. - Anemia Berat
Parasit menghancurkan sel darah merah penderita, memicu lisis (pecahnya sel) dan penekanan pada sumsum tulang. - Sindrom Nefrotik
Penurunan fungsi ginjal akibat kerusakan glomerulus, yang dapat berujung pada gagal ginjal.
Anak-anak, ibu hamil, dan individu dengan sistem imun lemah lebih berisiko mengalami malaria berat, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam upaya pencegahan. Namun, dengan pengobatan yang tepat waktu, sebagian besar penderita akan mengalami pemulihan gejala yang cepat.
Pencegahan dan pengobatan kunci utama untuk melindungi masyarakat dari malaria adalah melalui pengendalian vektor (nyamuk). Langkah-langkah pencegahan ini meliputi penggunaan kelambu tidur, merawat pakaian dengan permetrin, dan mengoleskan cairan anti nyamuk (DEET) pada kulit (Baca: Catat! Batas Aman DEET & Rekomendasi Anti-Nyamuk Terbaik). Bagi wisatawan yang bepergian ke daerah endemis, penggunaan obat profilaksis (pencegahan) seperti doksisiklin atau meflokuin juga sangat dianjurkan.
Swipers, yuk, temukan lebih banyak edukasi kesehatan lainnya di aplikasi SwipeRx. Download aplikasinya sekarang di Google Play Store atau App Store langsung dari handphone kamu!
Referensi:
- Bhatt, S., Weiss, D. J., Cameron, E., Bisanzio, D., Mappin, B., Dalrymple, U., Gething, P. W., & Hay, S. I. (2015). The effect of malaria control on Plasmodium falciparum in Africa between 2000 and 2015. Nature, 526(7572), 207–211. https://doi.org/10.1038/nature15535
- Buck E, Finnigan NA. Malaria. [Updated 2023 Jul 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551711/
- Cowman, A. F., Healer, J., Marapana, D., & Marsh, K. (2016). Malaria: Biology and disease. Cell, 167(3), 610–624. https://doi.org/10.1016/j.cell.2016.07.055
- MSD Manual Professional Version. (2025). Malaria. https://www.msdmanuals.com
- White, N. J., Pukrittayakamee, S., Hien, T. T., Faiz, M. A., Mokuolu, O. A., & Dondorp, A. M. (2014). Malaria. The Lancet, 383(9918), 723–735. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(13)60024-0
- World Health Organization. (2023). Malaria. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/malaria



