Ditulis oleh: Adinda Zahrah Mazaya Utoyo & Fathimatuz Zahra
Ditinjau oleh: Anna Fatinasari & apt. Chania Putri Arfiadanti
Halo Swipers, pernahkah kalian merasa mulut tiba-tiba terasa sangat kering, lengket, atau susah menelan walaupun tidak sedang haus? Banyak orang mengira itu hal biasa. Padahal kondisi ini bisa jadi tanda xerostomia atau yang sering disebut dry mouth (mulut kering) loh. Menariknya, salah satu penyebab paling sering dari kondisi ini ternyata adalah obat yang kita konsumsi sehari-hari. Yuk mari kita bahas!
Xerostomia adalah sensasi mulut kering yang biasanya terjadi karena produksi air liur menurun. Air liur atau saliva sebenarnya penting untuk menjaga kesehatan mulut, membantu menelan makanan, melindungi gigi dari karies, dan menjaga keseimbangan mikroorganisme di rongga mulut. Ketika produksi saliva menurun, berbagai masalah bisa muncul seperti kesulitan makan, berbicara, bau mulut, hingga infeksi jamur di mulut. Secara normal, tubuh menghasilkan sekitar 1 liter saliva per hari, tetapi pada kondisi xerostomia produksi saliva menurun sehingga mulut terasa kering dan lengket. Kondisi ini cukup sering terjadi yaitu sekitar 25% orang dewasa pernah mengeluhkan mulut kering dan angkanya meningkat pada usia lanjut.
Ternyata, obat adalah penyebab paling umum xerostomia, terutama pada orang yang mengonsumsi banyak obat sekaligus (polypharmacy). Bahkan dari 200 obat yang paling sering diresepkan, sekitar 63% obat berpotensi menyebabkan mulut kering. Risikonya meningkat jika seseorang mengonsumsi lebih dari satu obat yang memiliki efek xerogenik (obat yang menyebabkan mulut kering). Semakin banyak obat yang dikonsumsi, semakin besar kemungkinan produksi saliva menurun. Jadi sebenarnya xerostomia bisa terjadi karena dua hal:
- Golongan obat tertentu memang punya efek menyebabkan mulut kering (efek xerogenik)
- Jumlah obat yang dikonsumsi semakin banyak (polypharmacy) sehingga efeknya saling memperkuat.
Mengapa Harus Membawa Daftar Obat Saat Kontrol?
Membawa daftar obat yang sedang dikonsumsi ketika berkunjung ke fasilitas kesehatan memiliki beberapa manfaat penting, antara lain:
- Antikolinergik
Obat ini memiliki risiko tinggi menyebabkan xerostomia karena menghambat sistem saraf yang merangsang produksi saliva. Contoh: atropine, oxybutynin. - Antidepresan dan antipsikotik
Banyak obat di kelompok ini memiliki efek antikolinergik sehingga mengurangi produksi air liur. Contoh: amitriptyline, haloperidol, citalopram. - Antihistamin
Sering digunakan untuk terapi alergi tetapi juga memiliki mekanisme lain seperti penghambatan neurotransmitter asetilkolin pada reseptor M3 (kelenjar saliva) sehingga produksi air liur ikut terhambat dan menyebabkan mulut kering. Contoh: diphenhydramine dan antihistamin generasi satu lainnya. - Antihipertensi
Penelitian menunjukkan bahwa calcium channel blocker (31,1%), diuretik (26,8%), dan beta-blocker (23,1%) cukup sering dikaitkan dengan xerostomia. Untuk obat golongan diuretika, Obat ini meningkatkan pengeluaran cairan tubuh sehingga dapat menyebabkan dehidrasi dan penurunan produksi saliva. Contoh: amlodipine, propranolol, dan obat golongan diuretika. - Obat lain
Obat anti-motion sickness, Obat anti-parkinson, Dekongestan, Opioid, Obat urologi untuk inkontinensia.
Bagaimana Mekanisme Obat Menyebabkan Mulut Kering?
Supaya lebih mudah dipahami, kita perlu tahu sedikit tentang cara kerja saliva. Produksi saliva dikendalikan oleh sistem saraf otonom, terutama sistem parasimpatis yang menggunakan neurotransmitter asetilkolin untuk merangsang kelenjar saliva menghasilkan cairan. Nah, obat bisa menyebabkan xerostomia melalui beberapa mekanisme berikut:
- Menghambat reseptor kolinergik (antikolinergik). Obat seperti antihistamin dan antidepresan dapat memblokir reseptor muskarinik, sehingga kelenjar saliva tidak mendapat sinyal untuk memproduksi air liur.
- Mengganggu sinyal saraf ke kelenjar saliva: Beberapa obat bekerja di sistem saraf pusat dan menghambat sinyal yang biasanya merangsang produksi saliva.
- Menyebabkan dehidrasi: Obat seperti diuretik meningkatkan pengeluaran cairan tubuh sehingga volume saliva berkurang.
- Merusak atau mempengaruhi kelenjar saliva: Beberapa obat sitotoksik atau terapi kanker dapat langsung merusak jaringan kelenjar saliva.
Kalau dibiarkan, xerostomia bisa menyebabkan berbagai masalah seperti: sulit makan dan menelan, sulit berbicara, bau mulut, infeksi jamur di mulut, gigi mudah berlubang, luka pada mukosa mulut. Saliva sebenarnya berfungsi sebagai pelindung alami mulut, jadi ketika produksinya berkurang, kesehatan mulut bisa terganggu.
Bagaimana Cara Mengatasi Xerostomia?
Langkah pertama adalah meninjau obat yang dikonsumsi pasien. Jika memungkinkan, dokter dapat mengganti obat, menurunkan dosis, mengurangi jumlah obat yang dikonsumsi. Karena pada banyak kasus, menghentikan obat penyebab dapat membuat produksi saliva kembali normal.
Langkah selanjutnya yaitu jika kelenjar saliva masih bisa bekerja, produksi air liur bisa dirangsang dengan:
- Pilocarpine: Pilocarpine adalah agonis reseptor muskarinik yang menstimulasi kelenjar saliva untuk menghasilkan air liur lebih banyak. dengan mekanisme meniru kerja asetilkolin pada reseptor muskarinik sehingga merangsang kelenjar saliva mengeluarkan sekresi Penggunaan obat ini sebaiknya digunakan berdasar pada rekomendasi serta pengawasan dokter, karena perlu disesuaikan dengan kondisi medis pasien dan berpotensi menimbulkan efek samping tertentu.
- Cevimeline: Obat ini juga bekerja sebagai agonis kolinergik, yang merangsang reseptor pada kelenjar saliva untuk meningkatkan produksi saliva. Sama seperti Pilocarpine, penggunaan Cevimeline dianjurkan atas rekomendasi dokter dan dengan pemantauan untuk memastikan keamanan serta efektivitas terapi.
Sebagai catatan, terapi perangsang saliva umumnya diberikan hanya bila fungsi kelenjar saliva masih cukup baik, sehingga evaluasi oleh dokter tetap penting untuk menentukan apakah pasien memiliki indikasi yang sesuai yang sesuai untuk terapi tersebut.
Lalu, Jika produksi saliva sangat rendah, pasien dapat menggunakan saliva substitute seperti: carboxymethyl cellulose, xanthan gum, dan polyacrylic acid. Zat ini bekerja dengan melapisi mukosa mulut dan memberikan efek pelumas sehingga mulut terasa lebih lembab.
Yang terakhir yaitu, pendekatan non farmakologis yang juga sangat penting dan sering disarankan oleh dokter. Pendekatan tersebut berupa edukasi pasien mengenai perubahan gaya hidup yang dapat membantu mengurangi gejala, seperti sering menyesap air putih, mengunyah permen karet bebas gula, mengisap permen bebas gula, menghindari kafein, tembakau, alkohol, serta makanan yang kering atau sulit dikunyah, dan memastikan tubuh tetap terhidrasi dengan meningkatkan asupan cairan. Pasien juga dianjurkan menjaga kebersihan mulut dan perawatan gigi secara rutin, karena xerostomia dapat meningkatkan risiko karies dan infeksi rongga mulut.
Kesimpulan
Nah Swipers, xerostomia atau mulut kering bukan sekadar rasa tidak nyaman biasa. Kondisi ini sering terjadi karena efek samping obat, terutama obat dengan efek antikolinergik, antihipertensi, diuretik, atau obat psikiatri. Mekanismenya biasanya berkaitan dengan penghambatan sinyal saraf yang merangsang produksi saliva, dehidrasi, atau efek langsung pada kelenjar saliva.
Penanganannya dimulai dari mengidentifikasi obat penyebab, kemudian bisa dilakukan modifikasi terapi, stimulasi produksi saliva dengan obat seperti pilocarpine atau cevimeline, serta penggunaan saliva buatan untuk membantu melembabkan rongga mulut. Selain terapi farmakologis, pendekatan non farmakologis juga penting, seperti sering menyesap air putih, mengunyah permen karet bebas gula, menghindari kafein, alkohol, dan makanan kering, serta menjaga kebersihan mulut dan perawatan gigi rutin. Kombinasi kedua pendekatan ini membantu mengurangi gejala sekaligus mencegah komplikasi seperti karies dan infeksi mulut.
Jadi kalau kamu atau orang di sekitarmu merasa mulut sering kering, terutama saat sedang minum obat tertentu, jangan langsung dianggap sepele ya. Bisa jadi itu adalah xerostomia akibat obat.
References
- Barbe, A. G. (2018). Medication-induced xerostomia and hyposalivation in the elderly: culprits, complications, and management. Drugs & aging, 35(10), 877-885.
- Busti, A. J. (2015). The mechanism of diphenhydramine’s (Benadryl; Tylenol PM; Unisom) ability to cause xerostomia (dry mouth). EBM Consult. Retrieved March 30 2026, from https://www.ebmconsult.com/articles/antihistamine-diphenhydramine-benadryl-dry-mouth-mechanism
- Napeñas, J. J., Brennan, M. T., & Fox, P. C. (2009). Diagnosis and treatment of xerostomia (dry mouth). Odontology, 97(2), 76-83.
- Samia, E. Common Drugs Causing Xerostomia. J Infect Dis Travel Med [Internet]. el, 28, 1-4. Diakses pada 13 Maret 2026
- Sreebny, L. M., & Schwartz, S. S. (1997). A reference guide to drugs and dry mouth–2nd edition. Gerodontology, 14(1), 33-47.
- Talha, B., & Swarnkar, S. A. (2023). Xerostomia. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing.
- Visvanathan, V., & Nix, P. (2010). Managing the patient presenting with xerostomia: a review. International journal of clinical practice, 64(3), 404-407.



